Gua Buniayu PDF Print E-mail
ImageWana wisata ini terdiri dari hutan alam dan tanaman campuran (pinuus, mahoni, agathis, kaliandra dll). Sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini dimanfaatkan untuk keperluan pengunjung. Potensi visual lansekap didalam kawasan yang menarik adalah gua alam, hutan alam dan tanaman.
 

Gua Buniayu selain digunakan untuk wisata harian juga untuk wisata berkemah. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan adalah penelusuran gua, piknik, sedangkan untuk kegiatan berkemah tersedia beberapa kompleks perkemahan.

ImageImage 

Sejarah Kawasan

Wana wisata Gua Buniayu semula dikenal sebagai Gua Cipicung oleh masyarakat setempat sesuai dengan nama kampung didekatnya. Beberapa penelusur biasa menyebutnya Gua Siluman, sedangkan Perum Perhutani sendiri selaku pengelola telah menetapkan nama Gua Buniayu.
 
Penulusuran dan pemetaan Gua Buniayu dilakukan untuk pertama kali pada tahun 1982 oleh seorang speleogiwan Indonesia – Dr. R.K.T. Kho, bersama beberapa penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi De Speleleologie Francaise (FFS) yaitu : George Robert, Arnoult Seveau, Michael Chassier.
 
Pada saat ini telah berhasil dipetakan Gua Cipicung (panjang 3300 m) dan gua-gua lain disekitarnya yaitu Gua Bibijilan (717 m), Gua Adni (635 m), Gua Nyangkut (390 m), Kubang Lanang (302 m), Gua Tanpa Nama (400 m), Gua Karsim, Gua Bisoro, Gua Idin, Gua Gede, dan Gua Kole.
 
Gua Buniayu mulai dikelola oleh Perum Perhutani sejak tanggal 26 Pebruari 1992 dengan surat ijin usaha kepariwisataan dari Gubernur KDH Tk I Jawa Barat No. 503/SK.271.Bin.06 tanggal 25 Pebruari 1992 dengan masa berlaku sampai dengan tanggal 25 Pebruari 1995.
 
Keberadaan Gua Buniayu telah sejak lama diketahui oleh masyarakat. Mereka menamakannya Gua Cipicung sesuai dengan nama kampung didekatnya. Beberapa penelusur biasa menyebutnya Gua Siluman. Perum Perhutani sendiri selaku pengelola telah menetapkan nama Gua Buniayu.
 
Penulusuran dan pemetaan Gua Buniayu dilakukan untuk pertama kali pada tahun 1982 oleh seorang speleogiwan Indonesia – Dr. R.K.T. Kho, bersama beberapa penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi De Speleleologie Francaise (FFS) yaitu : George Robert, Arnoult Seveau, Michael Chassier.
Pada saat tersebut telah berhasil dipetakan Gua Cipicung (3300 m) dan gua-gua lain disekitarnya (Gua Bibijilan, Gua Adni, Gua Nyangkut, Kubang Lanang, Gua Tanpa Nama, Gua Karsim, Gua Bisoro, Gua Idin, Gua Gede, dan Gua Kole).
 
Gua Buniayu dengan sejuta keunikan dan pesonanya sebenarnya baru ditemukan oleh Slim, penduduk Jakarta yang kini menjadi warga Desa Buniayu. Penemuannya ini tak sengaja, atau lebih yakinnya Salim ingin membuktikan keterangan warga desa itu yang menyebutkan bahwa gua itu angker. Tapi setelah ditelusuri ternyata gua itu menyimpan sejuta pesona yang layak dijual sebagai komoditi pariwisata, yang kemudian dikelola Perum Perhutani sejak tahun 1991.
 
Menurut cerita dari mulut ke mulut penduduk disana Gua Buniayu yang dulunya dikenal sebagai Gua Siluman dinyatakan sebagai tempat angker. Sebab menurut mereka, gua itu sesuai namanya adalah tempat segala jenis mahkluk jadi-jadian alias Siluman. Maka pendudukan tak berani mendekati gua itu. Yang berani pasti malamnya bermimpi mengerikan atau sakit. Namun demikian Perum Perhutani menganggap bahwa gua Siluman ini sebagai aset wisata daerah yang harus dikembangkan.
 
Aksebilitas

Wana wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan roda dua maupun empat. Jarak tempuh dari Sukabumi 26 km. Kondisi jalan umumnya baik dan beraspal. Sarana transportasi umum yang ada berupa colt dan bus menuju Sagaranten.